Jangan Takut Gagal Sebelum Mencoba

 

Lenny Yanto

 

 

Sharing pengalaman meditasi di vihara Bodhigiri

Saya : Lenny Yanto, 47 tahun, mengikuti medtiasi di vihara Bodhigiri pada tanggal 14-24 September 2014.
Tahun 2009 saya pernah mendaftar untuk mengikuti meditasi, tetapi batal karenan ada tugas untuk mengurus keluarga yang sakit. Tahun-tahun berikutnya kadang ingat mau mendaftar tetapi sudah lewat periode latihan disana, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Bulan September 2014 saya mengetahui teman saya baru selesai mengikuti meditasi di Balerejo, saya tanya detil untuk jadwal dll. Kemudian saya mengirimkan email ke Bhante Uttamo, dan mendapat balasan email bahwa tanggal 14-24 September 2014 tersedia tempat untuk saya berlatih disana.
Saya sempat mengajak beberapa teman untuk ikut berlatih kesana, tapi semua pada mundur karena “takut dipulangkan oleh Bhante” he he, karena tidak bisa mengikuti peraturan untuk meditasi 15 jam sehari.

Saya hanya punya waktu kurang lebih 10 hari untuk persiapan meditasi,. Ada saja hal2 yang muncul yang mengganggu saya sebagai rintangan untuk pergi kesana. 5 hari sebelum berangkat, lutut kaki saya sakit untuk berjalan naik turun tangga. Kemudian saya pergi suntik ke dokter dan 2 hari sebelum berangkat saya juga ke dokter untuk suntik mengurangi nyeri frozen shoulder. Belum lagi sakit jari2 tangan yang kaku dll, Kalau dituruti maunya badan, pasti saya akan batalkan kepergian untuk berlatih meditasi. Begitu besar godaan untuk segera membatalkan pergi latihan meditasi dengan alasan sakit.
Tapi saya tekadkan, selama masih bisa jalan dan duduk, harus tetap berangkat. Masalah disana nanti tidak bisa memenuhi 15 jam, asalkan saya sudah sampai dan sungguh2 berlatih, dan tetap tidak bisa, dipulangkan juga ok saja, lain waktu kalau fisik sudah lebih siap, saya akan datang lagi kesana.

Tgl 14 Sept saya berangkat dari Jakarta ke Malang dengan pesawat pagi, langsung melanjutkan ke Balerejo, tiba di sana jam 15.30. Setelah diberikan petunjuk dan diantar ke kamar, saya siapkan “perlengkapan perang’ seperti : syal, jaket, botol minum, obat2an, dll yg diperlukan supaya saya tidak bolak balik nanti dari tempat meditasi ke kamar.

Tadinya mau istirahat dulu di kamar, tetapi ada eforia yang saya rasakan karena bisa sampai ditempat ini, akhirnya saya putuskan langsung keluar kamar dan melihat tempat dimana kira2 saya akan meditasi. Betapa kagetnya waktu berjalan dari kamar ke dhammasala, jalannya naik turun, cukup terjal, padahal kaki baru disuntik. Saya ingat pesan Bhante : kalo keinginan tidak sesuai dengan harapan, maka keinginannya yang harus diubah. Menyadari kekurangan fisik yang tidak fit, saya pilih yang aman saja meditasi di dalam ruang dhammasala. Saya sampai di dhammasala jam 16.30, saya langsung putuskan meditasi dan tidak mau bolak balik ke kamar lagi, karena perjalanan bolak balik kamar ke dhammasala pasti akan susah untuk kaki saya dan menghabiskan waktu.
Hari pertama non stop meditasi sampai besok jam 6 pagi, saya kumpulkan 11 ½ jam , sisa 3 ½ jam lagi.
Waktu ditanya Bhante keesokan paginya sudah meditasi berapa jam, saya jawab sudah 11 ½ jam, tenang saya karena lolos di hari pertama .

Saya selesaikan 15 jam di hari pertama jam 12 siang. Saya lanjutkan makan, mandi dan istirahat. Saya sudah cukup senang karena punya banyak waktu untuk istirahat sampai jam 16.30. Ternyata saya tidur 1 jam sudah bangun dan merasa segar sekali, dan kaki langsung melangkah ke dhammasala jam 15.00 mulai meditasi non stop sampai esok harinya jam 12 siang, saya selesaikan 17 jam meditasi.
Sejak itu sampai hari terakhir, saya hanya balik ke kamar 1 x di siang hari untuk makan, mandi dan istirahat, kemudian langsung ke dhammasala untuk meditasi non stop. Selama 10 hari meditasi disana, saya hanya tidur 1 jam tiap hari, dan makan 1 x siang hari. Saya meditasi 15 jam 2x, selebihnya 16 jam, 17 jam, dan 17 jam 45 menit. Kalo diingat kondisi sebelum berangkat, saya tidak berani bertaruh untuk dapat menyelesaikan ketentuan 15 jam meditasi disana dengan baik, tapi nyatanya saya berhasil melalui semua dengan baik.

Di hari pertama saya sudah pelajari, disamping tekad yang kuat, bahwa time management yang baik akan memudahkan kita untuk menyelesaikan target 15 jam meditasi.
Hari kedua dst saya benar2 rencanakan semua dengan baik. Saya tidak mau jalan terlalu jauh, karena fisik tidak kuat untuk bolak balik dan akan mengurangi jam meditasi. Kemudian semua perlengkapan yang kita perlukan harus disiapkan supaya tidak bolak balik ke kamar. Pengisian air minum di botol minum juga jangan mondar mandir ke dispenser, karena akan mengurangi waktu 5 menit untuk bolak balik, sekali mengisi air. Waktu ke toilet juga harus diatur, jangan terlau sering ke toilet. Kalau sudah menyelesaikan 3-4 jam, baru saya ke toilet sekali. Ini saja sudah mengurangi waktu 6-10 menit, apalagi kalo toilet antri. Saya juga tidak pusingkan peserta2 lain, apapun yang mereka kerjakan tidak usah melakukan penilaian, sehingga saya hanya fokus kepada apa yang dikerjakan diri sendiri. Beberapa malam saya hanya sendirian sepanjang malam di ruang dhammasala yang sedemikian besar, saya tetap nyaman saja.

Kita harus punya komitmen yang kuat terhadap diri sendiri, jangan gampang terpancing oleh godaan2 dari fisik yang selalu menuntut untuk istirahat..

Paling penting itu menghadapi hari pertama dan kedua, kalau sudah tau bagaimana mengatur latihan dan time management yang baik, semua akan menjadi lebih mudah. Disiplin dan komitmen dalam diri kita, membuat fisik pelan2 juga akan mengikuti ritme kita, perlahan rasa sakit akan berkurang.

Yang tidak kalah pentingnya adalah berani menyampaikan hal2 yang dialami selama meditasi di keesokan harinya pada saat sharing kepada Bhante, supaya kita tau progress kita dan apa2 saja yang perlu menjadi perhatian untuk latihan berikutnya.

Tentu pengalaman setiap orang berbeda, belajar dari sharing selama kita bisa menyaring mana informasi yang sesuai dengan kondisi kita, ini akan membantu. Saya beruntung, tiap pagi pererta sharing kepada Bhante, dibahas hal2 yang biasa dialami meditator, jadi pada saat keesokan harinya hal yang sama terjadi, saya bisa mawas diri dan cepat berusaha untuk melanjutkan meditasi dengan baik.

Awal November 2014 saya baru pulang dari perjalanan Thailand Kamboja. Di perbatasan imigrasi masuk ke Thailand dari Kamboja (melalui perjalanan darat), antrian imigrasinya sangat panjang dan tidak beraturan, memerlukan waktu lebih dari 2 jam untuk melewati pemeriksaan imigrasi. Orang2 sudah resah, kepanasan, ada yang marah dan teriak2, saling menyerobot antrian yang tidak ada aturannya. Saya cukup tenang dalam kondisi ini, saya merasakan kondisi yang sama seperti saya latihan di vihara Bodhigiri Sept yang lalu, persis seperti waktu meditasi dan pikiran datang ber tubi2, timbul tenggelam, sampai sakit kepala. Sampai akhirnya bisa duduk diam dan mengamati pikiran yang timbul tenggelam sedemikian cepatnya, dan kemudian semua menjadi diam dan tenang kembali focus kepada objek kembung kempis perut. Demikian pula yang saya rasakan disini, semua hiruk pikuk di luar dan kondisi yang tidak kondusif, saya amati saja dan batin menjadi tenang, tidak merasa kesal sama sekali.

Semoga sharing ini memberikan informasi untuk teman2 yang akan berlatih disini, dan memberikan keyakinan untuk orang2 seperti saya yang mengalami sakit disana sini, untuk tidak lembek kepada diri sendiri, kita harus mencobanya dulu. Jangan takut dan malu kalau sampai dipulangkan selama kita sudah berusaha. Malah bagus untuk dijadikan pengalaman supaya kedepannya kita bisa hadapi dengan lebih baik.

Setelah selesai menjalani meditasi ditempat yang ‘ditakuti’ dengan target minimum 15 jam , dan harus siap2 dipulangkan oleh Bhante, sekarang saya tidak takut jika ada kesulitan, karena itu sebagian besar ditimbulkan oleh pikiran. Hadapi dulu semuanya, baru dinilai kita bisa atau tidak, jangan takut gagal sebelum mencobanya. Kalaupun sudah berusaha tapi masih belum bisa, jangan malu dipulangkan, karena ada kesempatan untuk mencobanya lagi di lain waktu.

Setiap pagi saya sekarang tetap berlatih meditasi walau hanya setengah jam. Dengan latihan ini membantu menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih santai. Saya bisa lebih cepat ‘eling’ jika ada sesuatu yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan, cepat2 melepaskannya, jangan terlarut didalamnya.

Semoga semua mahluk berbahagia… Sadhu…Sadhu…Sadhu…

  • December 3, 2014
Skip to toolbar