“Kapok Lombok” Bermeditasi di Vihara Bodhigiri

“Kapok Lombok” Bermeditasi di Vihara Bodhigiri

Yolanda Sugani

 
Tahun 2008 adalah tahun yang sangat berkesan bagi saya. Pada tahun itu, saya pertama kalinya sampai di Vihara Bodhigiri, yang saat itu dikenal dengan Panti Semedi Balerejo.

Saya datang dengan tekad, atau lebih tepat disebut nekat. Saya sebelumnya adalah umat Buddha tradisi, dan sama sekali belum pernah belajar bermeditasi. Namun pada satu kesempatan di bulan Maret 2008, saya untuk pertama kalinya datang dan mendengarkan ceramah Bhikkhu Uttamo di Jakarta. Peristiwa itu memberi kesan mendalam bagi saya. Seperti membuka sesuatu dalam diri saya, yang saya yakin seharusnya dapat digali lebih jauh. Sepulang dari talkshow itu, saya bertekad untuk mencari dan belajar lebih banyak dari sosok seorang Bhikhhu Uttamo.

Setelah mencari di internet, akhirnya saya berhasil menemukan keberadaan Beliau, selama masa vassa di Panti Semedi Balerejo. Namun syaratnya cukup berat bagi saya. Bukan hanya letaknya yang jauh dan entah dimana, juga syarat untuk memenuhi target meditasi selama 15 jam setiap hari, sungguh berat bagi seorang yang tidak pernah bermeditasi seperti saya.
Namun karena tekad saya ternyata jauh lebih besar daripada segala kendala yang ada, saya langsung memutuskan berangkat walau seorang diri.
Untungnya, entah bagaimana ternyata saya ada teman tinggal disekitar sana dan akhirnya dia yang mengantarkan saya sampai ke Balerejo.

Sampai di Balerejo, saya mengikuti latihan meditasi sama seperti semua peserta lainnya, setelah diberikan bimbingan awal oleh Bhante. Saya saat itu masih belum paham apa sih pentingnya meditasi, jadi saya lakukan asal lakukan saja. Seperti mengerjakan PR. Pokoknya duduk, lakukan seperti yang Bhante ajarkan. Yang penting 15 jam sehari, hasilnya terserah saja.

Kadang saya malas, kadang juga bosan sekali. Untungnya Bhante sangat disiplin dan tegas, sehingga saya juga ikut belajar keras terhadap diri sendiri. Paling membahagiakan adalah saat chanting pagi , dan bisa berinteraksi tanya jawab dengan Bhante. Sungguh memberi banyak pengetahuan, pelajaran tentang kehidupan dan semangat..

Lima hari saya di Balerejo, singkat tetapi mengubah banyak hal dalam hidup saya.
Saat pamit pada Bhante, saat kaki saya masih di dalam gerbang Balerejo, saya masih belum sadar dan berkata saya tidak akan kembali lagi untuk bermeditasi. Kapok kata saya.. Tapi saya akan datang untuk belajar Dhamma dari Bhante.
Bhante hanya tersenyum dan bilang :”ya liat nanti saja. Kapok lombok”

Namun begitu kaki saya ini keluar dari Balerejo, kembali ke dunia di luar sana, saya baru mulai sedikit demi sedikit menyadari manfaatnya.
Begitu keluar dari gerbang, setiap kali bernafas, saya menyadari nafas masuk dan keluar. Setiap kali melangkah, pikiran saya langsung menyadari kiri kanan – kiri kanan. Reaksi pikiran menjadi begitu cepat dan terarah. Misalnya saat saya mau marah, sebelum saya membuka mulut, pikiran saya sudah langsung menyadari terlebih dahulu, oh saya mau marah nih, kemudian pakai jurus kedua, diamati dan lenyap. Alhasil saya tidak jadi marah.. Dan dalam banyak hal, kecepatan pikiran ini untuk sadar, sangat membantu.

Dalam hal kesehatan, juga saya merasakan manfaatnya.
Dulu saya sering sakit di bagian punggung belakang, setiap minggu biasanya pijat minimal dua kali. Juga keluhan saya yang lain adalah vertigo, seringkali datang dan sangat mengganggu. Minum obat apapun tidak sembuh, hanya menunggu waktu saja nanti hilang sendiri.

Saat bermeditasi di Balerejo, saya merasakan sakit yang luar biasa di punggung dan kepala saya. Saya ikuti petunjuk Bhante, untuk menerima keadaan itu terlebih dahulu, tanpa penolakan dan kebencian, setelah itu diamati dengan perasaan netral.. Beberapa hari saya bergulat melawan rasa sakit, sakit.. Sakit.. Semakin sakit.. Namun pada akhirnya dia lenyap.. Benar seperti yang Bhante ajarkan..

Namun yang mengagumkan adalah, saya mendapatkan hasil yang boleh dibilang permanen. Sepulangnya saya dari Balerejo, hingga saat ini, punggung belakang saya tidak ada keluhan sakit lagi.. Sembuh.. Demikian juga dengan vertigo, sudah tidak datang terus menerus seperti dulu lagi. Adakalanya saya masih mengalami vertigo, namun sudah sangat jarang. Setahun mungkin hanya sekali dua kali saja. Ini manfaat meditasi yang saya rasakan dan saya buktikan sendiri untuk kesehatan.

Bukan hanya itu saja, masih banyak yang saya peroleh dari kunjungan awal itu. Dari uraian-uraian yang Bhante sampaikan, dari tanya jawab, dari contoh yang saya pelajari dengan melihat, banyak yang berubah dalam diri saya, sejalan dengan berubahnya pola pikir ke arah yang lebih baik. Hasilnya, saya dapat menerima hidup dengan lebih baik dan menjalaninya dengan lebih bahagia. Dengan belajar meditasi, belajar menerima kenyataan saat ini, belajar melihat sesuatu itu timbul tenggelam, belajar untuk bersikap netral, sungguh memberikan manfaat yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Kapok Lombok” kata Bhante, saya tersenyum setiap kali teringat kata-kata itu.. Kapok, jera tapi kembali lagi. Setelah tahu dan membuktikan manfaatnya, kapok 15 jam apalah artinya.. Dan saya menjadi peserta setia tiap tahunnya, mengikuti meditasi di Balerejo hingga saat ini.

Semoga semua mahluk hidup berbahagia.

Salam metta,

Yolanda
Keterangan :
“Kapok lombok” adalah satu peribahasa Jawa yang bermakna jera (Jw: kapok) pada suatu saat, namun akan diulang kembali pada saat yang lain. Sebagaimana seseorang yang merasakan pedas saat makan cabe (Jw : lombok) sehingga ia berhenti memakannya pada saat itu, namun ia akan mengulang kembali di masa lain. Ia tidak pernah jera makan cabe. Ia tetap makan cabe walau hasilnya sama, kepedasan.

  • November 10, 2014
Skip to toolbar